KOTAKU: Upaya Menciptakan Kota/Desa Tanpa Kumuh

Program KOTAKU (Kota Tanpa Kumuh) adalah program pencegahan dan peningkatan kualitas pemukiman kumuh nasional yang merupakan penjabaran dari pelaksanaan Rencana Strategis Direktorat Jenderal Cipta Karya 2015-2019. Meskipun nama program ini adalah kota, namun sasaran program ini adalah pengentasan semua pemukiman kumuh baik yang ada di perkotaan (kotamadya) maupun di pedesaan (kabupaten) hingga mencapai 0 Ha demi mendukung terwujudnya pemukiman yang layak huni, produktif dan berkelanjutan.

Tujuan program adalah meningkatkan akses terhadap infrastruktur dan pelayanan dasar di kawasan kumuh perkotaan untuk mendukung terwujudnya permukiman perkotaan yang layak huni, produktif dan berkelanjutan.

Tujuan tersebut dicapai melalui tujuan antara sebagai berikut:

  1. Menurunnya luas kawasan permukiman kumuh menjadi 0 Hektar;
  2. Terbentuknya Kelompok Kerja Perumahan dan Kawasan Permukiman (Pokja PKP) di tingkat kabupaten/kota dalam penanganan kumuh yang berfungsi dengan baik;
  3. Tersusunnya rencana penanganan kumuh tingkat kota/kabupaten dan tingkat masyarakat yang terlembagakan melalui Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD);
  4. Meningkatnya penghasilan Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) melalui penyediaan infrastruktur dan kegiatan peningkatan penghidupan masyarakat untuk mendukung pencegahan dan peningkatan kualitas kawasan permukiman kumuh; dan
  5. Terlaksananya aturan bersama sebagai upaya perubahan perilaku hidup bersih dan sehat masyarakat dan pencegahan kumuh.

 Lokasi Program

Program kotaku dilaksanakan di 269 kota/kabupaten di 34 Propinsi di seluruh Indonesia.  Cakupan lokasi program berdasarkan kategori kegiatan adalah sebagai berikut:

  1. Kegiatan peningkatan kualitas permukiman dilaksanakan di seluruh kawasan teridentifikasi kumuh yang diusulkan kabupaten/kota[1]. Khusus untuk perbaikan infrastruktur tingkat kota (infrastruktur primer dan sekunder), dukungan investasi dari pemerintah pusat hanya akan diberikan kepada kota/kabupaten terpilih, yang memenuhi kriteria tertentu.
  2. Kegiatan pencegahan kumuh dilaksanakan di seluruh kelurahan dan atau kawasan/kecamatan Perkotaan diluar kel/desa kawasan yang teridentifikasi kumuh termasuk lokasi kawasan permukiman potensi rawan kumuh yang diidentifikasi pemerintah kabupaten/kota.
  3. .Kegiatan pengembangan penghidupan berkelanjutan dilakukan di semua lokasi peningkatan kualitas maupun pencegahan kumuh.

Kegiatan Kotaku

  • Melakukan baseline data kumuh di 11.067 kelurahan/desa di 269 kota/kabupaten.
  • Melaksanakan pencegahan dan peningkatan kualitas permukiman kumuh melalui pola PLPBK yang dilaksanakan di 220 kelurahan/desa eksisting,
  • Percepatan pencegahan dan peningkatan kualitas permukiman kumuh melalui kolaborasi kota di 100 kota/ kabupaten.
  • Peningkatan Penghidupan Masyarakat Berbasis Komunitas (PPMK) di 845 kel/desa dan Business Development Center (BDC) di 15 kota/kabupaten.
  • Pilot PRBBK (Pengurangan Resiko Bencana Berbasis Komunitas) Bencana Kebakaran di 10 kelurahan/desa.
  • Integrasi Perencanaan : sudah ada RKPKP di 84 kab/kota fasilitasi APBN dan sedang difinalisasi SIAP di 18 kab/ kota melalui fasilitasi NUSP2.

Desa Ciangsana adalah salah satu desa di Kabupaten Bogor yang memiliki kepadatan penduduk di atas rata-rata desa pada umumnya. Letaknya yang berbatasan dengan Kota Bekasi dan lokasinya yang menjadi penyangga ibukota Jakarta, tentu memicu munculnya permasalahan kependudukan yang kompleks, baik itu dari segi ekonomi, budaya, maupun penataan ruang. Potensi munculnya pemukiman kumuh pun menjadi cukup besar.

Hal inilah yang harus segera diatasi dengan berbagai kegiatan yang bersifat preventif maupun peningkatan kualitas desa. Karena itu tidak salah jika Pemdes Ciangsana menyambut positif program KOTAKU ini.

 

(Visited 14 times, 1 visits today)

Tanggapan

Komentar