Sejarah Desa Ciangsana

Sejarah berdirinya Desa Ciangsana berhubungan dan berkaitan dengan KERAJAAN MATARAM  pada abad ke-16 tahun 1628 sampai tahun 1629 Masehi. Pada saat pasukan Kerajaan Mataram mengadakan penyerangan ke Batavia [sekarang Jakarta]. Yang mana tujuan penyerangan itu untuk merebut Benteng Batavia yang saat itu dibawah kekuasaan VOC [perserikatan dagang Belanda], sebagai pusat propaganda VOC dalam dunia perdagangan rempah-rempah di kawasan Asia Tenggara,khususnya di Nusantara yang pada kenyataannya kegiatan dagangVOC,ditumpangi oleh pasukan KERAJAAN BELANDA. Yang kemudian daerah di Nusantara, yang mereka datangi akhirnya mereka taklukan dan dikuasainya.

Maka atas dasar itulah akhirnya KERAJAAN MATARAM di bawah pimpinan SULTAN AGUNG, yang merasa daerah kekuasaannya banyak yang direbut  oleh pasukan Kerajaan Belanda yang berlindung pada VOC, maka SULTAN AGUNG pun merasa tersinggung dan sangat dirugikan, maka Sultan Agung memutuskan untuk menyerang dan menguasai Batavia.

Penyerangan ke BATAVIA oleh pasukan Kerajaan Mataram, dipimpin oleh panglima perang bernama MANDURA REZA,BAHU REKSA dan SURA AGUL-AGUL dibawah KOMANDO PANEMBAHAN PURBAYA.

Siasat dan penyerangan memperhitungkan “PRANATA MANGSA” atau penanggalan kegiatan usaha pertanian,  jarak dari Mataram ke Batavia memerlukan waktu 90 hari di tambah waktu istirahat dan persiapan penyerangan dengan melalui rute: Lewat pantai utara [pantura] yaitu daerah pekalongan, Tegal, Cirebon lalu membelok ke daerah Sumedang, Cianjur dan Pakuan [ Buitenzorg] atau daerah Bogor sekarang ini. Dari   sana bergerak ke Batavia menyusuri sungai Ciliwung.

Akan tetapi proses pengiriman pasukan dan penyerangan ke Batavia dalam pertempuran mengalami kegagalan, karena ada hambatan faktor kehabisan logistik makanan, dan gangguan kesehatan, prajurit Kerajaan Mataram terserang penyakit malaria.

Akhirnya para perwira Kerajaan Matarammemutuskan untuk menunda penyerangan ke Batavia, sambil menyusun siasat baru kemudian mereka memilih daerah pesisir sekitar Batavia,  sambil  membuka sawah dan ladang untuk pertanian serta sambil menyebarkan agama islam pada warga setempatyang masih banyak menganut agama Hindu dan Budha.

Disinilah cikalbakal proses pembukaan suatu kampung bermula diujung daerah Bogor paling lor [ utara ] yang diapit oleh sungai Cikeas dan sungai Cileungsi yang sekarang bernama Bojong Kulur. Di daerah itulah menetap salah seorang perwira Kerajaan Mataram yang bernama SYECH KAPITAN SALEH seorang tokoh kerajaan Mataram yang menyebarkan agama islam dan membuka kampung-kampung baru di kawasan Syech Kapitan Saleh tinggal dan daerah sekitarnya.

            Proses ini berlanjut terus dan di ikuti oleh tokoh-tokoh dari Kerajaan Mataram yang lainnya, yang memilih tidak pulang kembali ke Kerajaan Mataram, dan memilih membuka kampung atau tempat tinggal yang baru dengan membuka hutan untuk dijadikan tempat tinggalnya.

            Salah satu tokoh kerajaan yang bernama MBAH BUYUT SITA membuka kampung baru dengan membabat hutan yang pada waktu itu sangat banyak tumbuh Pohon Angsana di kawasan itu kawasan itu dan terdapat sungai kecil / susukan yang mengalir dari selatan keutara yang terdapat di tengah hutan tersebut.

            Akhirnya MBAH BUYUT SITA memberi nama kampung itu dengan nama: CIANGSANA Sedangkan tempat MBAH BUYUT SITA menetap dinamakan kampung BABAKAN yang artinya memulai.

Secara etimolois kata CIANGSANA dapat diartikan, Ci artinya air dan Angsana artinya nama pohon. Nama CIANGSANA tersebut kemudian digunakan sebagai nama  DESA CIANGSANA, mulai sebelum jaman kemerdekaan RI sampai sesudah masa kemerdekaan RI hingga sampai sekarang ini.

            Setelah MBAH BUYUT SITA meninggal oleh keluarganya dimakamkan di kampung Bakom, yang terkenal dengan KRAMAT  PASAREAN, dan itu dijadikan tempat pemakaman oleh warga Desa Ciangsana.

            Karena MBAH BUYUT SITA sebagai penyebar agama Islam dan seorang tokoh  Kerajaan Mataram, dan orang pertama yang membuka kampung baru yang CIANGSANA, sebagai cikal bakal berdirinya DESA CIANGSANA, maka makamnya pun banyak dijiarahi oleh warga Desa Ciangsana maupun oleh warga dari luar Desa Ciangsana. Dan di pemakaman kramat pasarean telah dibangun pula sebuah musholah.

            Bukti adanya sungai kecil atau susukan dan pohon Angsana, memang benar adanya. Sungai kecil atau susukan memang ada mengalir dari kampung babakan terus mengalir ke kampung Bakom dan Parung Pinang melewati Makam Pasarean dan melewati cikepek kampung Cikeas Parung dan bermuara di Sungai Cileungsi.Tetapi sekarang ini sungai kecil atau susukan tersebut sebagian sudah tidak ada karena terurug oleh lokasi perumahan kota wisata yang dibangun mulai tahun 1995.

            Mengenai keberadaan gedung kantor Desa Ciangsana,  mulai dri sebelum masa kemerdekaan RI sampai tahun 1967, belum memiliki gedung kantor  Desa  yang tetap dan Baru ketika bapak SADAN IDAN mulai menjabat Kepala Desa Ciangsana Tahun 1967 s/d 1978, kantor Desa Ciangsana mulai dibangun secara permanen yang terletak di Blok Bedeng Kp. Cikeas Parung, tepatnya sekarang ini berada di depan Bangunan Sekolah Bina Bangsa 2 ( BP 2 ) dan di sekitar kantor Desa waktu itu sudah berkembang pasar Desa dan lapangan sepak bola dan bengkel Roda serta pemukiman warga.

            Kemudian ketia Bpak ASMAT menjadi PJS Kepala Desa Ciangsana pada Tahun 1978 s/d 1980 Kantor Desa Ciangsana di pindahkan ke Kp. Cikeas Ilir sampai sekarang ini, tetapi fisik bangunan kantor Kepala Desa sudah di renovasi beberapa kali agara lebih baik dan meningkatkan pelayanan kepada warga masyarakat dan peresmian Kantor Kapala Desa Ciangsana, pernah diresmikan oleh Bupati Bogor yaitu Bapak HM EDDIE YOSO MARTADIPURA pada tanggal 27 Maret 1997, sehingga bangunan Kantor Kepala Desa Ciangsana menjadi lebih bersih Indah dan Nyaman sesuai dengan Motto Pemerintah Kabupaten Bogor yaitu “ TEGAR BERIMAN “ ( Tegar , segar, Bersih, Indah dan Nyaman).

Disusun dan di edit kembali oleh

  1. Misja Wiharja,SH
  2. Mista Gunan M Ranin

Sumber Naskah

  1. Wawancara para sesepuh Desa Ciangsana
  2. Majalah MingguanVillani, Edisi2 Tahun 2010 Artikel “ Negeri Peninggalan Kesultanan Demak “
  3. com.21/08/2012 artikel “ Siasat Sultan Agung Menyerang Batavia”